Aku Setan
zhaloe fals. Powered by Blogger.

G 30S/PKI {part 24} end

Kita semua ga tau kebenaran sejarah, yg penting mulai sekarang kita jangan sampai terpecah dan harus bersatu untuk kemajuan negara kita INDONESIA tercinta....
Read more >>

Peristiwa G 30 S PKI



download
Read more >>

Hakim At-Tirmidz




 Karomah secara etimologi berasal dari kata berbahasa Arab “karoma” yang artinya hormat/menghormati/penghormatan/pemuliaan. Karomah dalam terminologi ulama ilmu tauhid adalah hal/perkara atau suatu kejadian yang luar biasa di luar nalar dan kemampuan manusia awam yang terjadi pada diri seorang wali Alloh.
Munculnya karomah pada diri seorang wali Alloh adalah sebagai penghormatan/pemuliaan terhadap dirinya dan sebagai isyarat dari Alloh bagi terkabulnya/diterimanya eksistensi diri seorang wali tersebut di sisi Alloh.
Contoh kejadian yang dapat dikatakan sebagai karomah sangatlah banyak. Dapat kita ambil beberapa contoh dari para sahabat yang eksistensi dirinya tidak diragukan lagi:
  • Yang terjadi pada Usayd ibn Hudhoyr ketika membaca Surah Al-Kahfi, para malaikat turun oleh sebab bacaannya tersebut.
  • Imron ibn Hushain, malaikat memberi salam kepadanya.
  • Sa’ad ibn Abi Waqqash, selalu dikabulkan do’anya.
  • ‘Amir ibn Fuhairoh, ketika syahid jasadnya diangkat oleh para malaikat, hal ini dilihat oleh sahabatnya ‘Amir ibn Ath-Thufayl.
Dalam Kitab Jami’u karamatil Aulia Juz 1 hal 7 Syech Yusup bin sulaiman berpendapat bahwa “wali ialah orang yang sangat dekat kepada Alloh lantaran penuh ketaatannya dan oleh karena itu Alloh memberikan kuasa kepadanya dengan Karomah dan penjagaan”
maksudnya adalah orang yang menjadi dekat keadaan jiwanya kepada Alloh karena ketaatan dia akibatnya Alloh menjadi dekat orang tersebut dan diberikan anugrah oleh Alloh berupa “karomah” dan penjagaan untuk tidak terjerumus berbuat maksiat,apabila dia terjerumus berbuat maksiat maka cepat-cepat dia bertaubat.
Kh.Hasyim Asy’ari dalam kitabnya Ad Durarul Muntatsirah pada halaman 2 beliau mengungkapkan bahwa Wali adalah orang yang terpelihara dari ;
a. Melakukan dosa besar dan kecil
b.Terjerumus oleh hawa nafsunya sekalipun hanya sekejap dan apabila melakukan dosa maka dia cepat-cepat bertaubat kepada Alloh.sebagaimana tersebut didalam alquran(Q.S.YUNUS AYAT 62-64)
Hakim At-Tirmidzi mendefinisikan Wali Allah adalah seorang yang demikian kokoh di dalam peringkat kedekatannya kepada Allah (fi martabtih), memenuhi persyaratan-persyaratan tertentu seperti bersikap shidq (jujur dan benar) dalam perilakunya, sabar dalam ketaatan kepada Allah, menunaikan segala kewajiban, menjaga hukum dan perundang-undangan (al-hudud) Allah, mempertahankan posisi (al-) kedekatannya kepada Allah.menurut at-Tirmidzi, seorang wali mengalami kenaikan peringkat sehingga berada pada posisi yang demikian dekat dengan Allah, kemudian ia berada di hadapan-Nya, dan menyibukkan diri dengan Allah sehingga lupa dari segala sesuatu selain Allah.
Karena kedekatannya dengan Allah, seorang wali memperoleh ‘ishmah (pemeliharaan) dan karamah (kemuliaan) dari Allah. menurutnya, ada tiga jenis ‘ishmah dalam Islam. Pertama, ‘ishmah al-anbiya’ (ishmah para Nabi) merupakan sesuatu yang wajib, baik berdasarkan argumentasi ‘aqliyyah seperti dikemukakan Mu’tazilah maupun berdasarkan argumentasi sam‘iyyah. Kedua, ‘ishmah al-awliya’ (merupakan sesuatu yang mungkin); tidak ada keharusan untuk menetapkan ‘ishmah bagi para wali dan tidak berdosa untuk menafikannya dari diri mereka, tidak juga termasuk ke dalam keyakinan agama (‘aqa’id al-din); melainkan merupakan karamah dari Allah kepada mereka. Allah melimpahkan ‘ishmah ke dalam hati siapa saja yang dikehendaki-Nya di antara mereka. Ketiga, ‘ishmah al-‘ammah, ‘ishmah secara umum , melalui jalan al-asbab, sebab-sebab tertentu yang menjadikan seseorang terpelihara dari perbuatan maksiat.
‘Ishmah yang dimiliki para wali dan orang-orang beriman, menurut at-Tirmidzi, bertingkat-tingkat. Bagi umumnya orang-orang yang beriman, ‘ishmah berarti terpelihara dari kekufuran dan dari terus menerus berbuat dosa; sedangkan bagi para wali ‘ishmah berarti terjaga (mahfuzh) dari kesalahan sesuai dengan derajat, jenjang, dan maqamat mereka. Masing-masing mereka mendapatkan ‘ishmah sesuai dengan peringkat kewaliannya. Inti pengertian ‘ishmah al-awliya’ terletak pada makna al-hirasah (pengawasan), berupa cahaya ‘ishmah (anwar al-ishmah) yang menyinari relung jiwa (hanaya al-nafs) dan berbagai gejala yang muncul dari kedalaman al-nafs, tempat persembunyian al-nafs (makamin al-nafs), sehingga al-nafs tidak menemukan jalan untuk mengambil bagian dalam aktivitas seorang wali. Ia dalam keadaan suci dan tidak tercemari berbagai kotoran al-nafs ( adnas al-nafs ).
jadi dari berbagai pendapat diatas bahwa Derajat ke” Wali” an pada hakekatnya dapat diperoleh atau dicapai oleh sesorang mukmin yang bertaqwa dengan jalan melaksanakan dan menta’ati segala peraturan dan tuntunan sya’ra yang diwajibkan dan yang disukai Alloh SWT dikerjakan dengan penuh ketekunan . Dan yang Haram atau yang tidak disukai Alloh dijauhkan dan dihindarkan dari dirinya supaya jangan sampai jatuh tergelincir melakukannya. Apabila tergelincir melakukan dosa kecil sekejap saja cepat-cepat diikuti dengan bertaubat yang sebenar-benarnya.dan terus segera kembali kepada yang haq (benar).
B.PENGERTIAN “KAROMAH”
Karomah menurut bahasa/lughoh sama dengan Aza-zah artinya kemuliaan (munjid hal 682) . Pengertian karomah menurut Syeck Ibrahim Al Bajuri dalam kitabnya “tuhfatul Murid” hal 91 bahwa karomah adalah” sesuatu luar biasa yang tampak dari kekuasaan seorang hamba yang telah jelas kebaikannya yang diteyapkan karena adanya ketekunan didalam mengikuti syariat nabi dam mempunyai i’tiqod yang benar”
Menurut Hakim At-Tirmidz Adapun yang dimaksud karamah al-awliya’ tiada lain, kemuliaan, kehormatan,(al-ikram); penghargaan (al-taqdir); dan persahabatan (al-wala) yang dimiliki para wali Allah berkat penghargaan, kecintaan dan pertolongan Allah kepada mereka. Karamah al-awliya itu, dalam pandangan Hakim at-Tirmidzi, merupakan salah satu ciri para wali secara lahiriah (‘alamat al-awliya’ fi al-zhahir) yang juga dinamakannya al-ayat atau tanda-tanda.
Hakim at-Tirmidzi membagi karamat al-awliya ke dalam dua bagian. Pertama, karamah yang bersifat ma‘nawi atau al-karamat al-ma‘nawiyyah. Karamah yang pertama merupakan sesuatu yang bertentangan dengan adat kebiasaan secara fisik-inderawi, seperti kemampuan seseorang unrtuk berjalan di atas air atau berjalan di udara. Sedangkan karamah yang kedua merupakan ke-istiqamah-an seorang hamba di dalam menjalin hubungan dengan Allah, baik secara lahiriah maupun secara batiniah yang menyebabkan hijab tersingkap dari kalbunya hingga ia mengenal kekasihnya, serta merasa ketentraman dengan Allah. At-Tirmidzi memaparkan karamah yang kedua sebagai yang berikut:
Kemudian Tuhan memandang wali Allah dengan pandangan rahmat. Maka Tuhan pun dari perbendaharaan rububiyyah menaburkan karamah yang bersifat khusus kepadanya sehingga ia (wali Allah) itu berada pada maqam hakikat kehambaan (al-haqiqah al-ubudiyyah). Kemudian Tuhan pun mendekatkan kepada-Nya, memanggilnya, menghormati dan meninggikannya. Menyayanginya dan menyerunya. Maka wali pun menghampiri Tuhan ketika ia mendengar seru-Nya. Mengokohkan (posisi)-nya dan menguatkannya; memelihara dan menolongnya; sehingga ia meresponi dan menyambut seruan-Nya. Dalam kesunyian ia memanggil-Nya. Setiap saat ia munajat kepada-Nya. Ia pun memanggil kekasihnya. Ia tidak mengenal Tuhan selain Allah.
Jadi karomah adalah merupakan sesuatu perkara yang terjadi diluar kemampuan akal manusia biasa untuk memikirkan atau menciptakan .perkara itu ( karomah) diberikan Alloh kepada hambanya yang sudah terang kebaikannya( shalehnya), setiap sikap perbuatan dan ucapannya serta keadaan hatinya selalu bergerak sesuai dengan tuntunan ajaran Islam yang dibawa oleh Rosululloh SAW baik dalam segi syaria’t atau aqidah serta akhlaknya.
Oleh karena itu bagi Waliyulloh dengan Karomahnya kadang-kadang tampak keanehan-keanehan baik dalam sikap tindakan dan ucapan yang tidak begitu saja mudah bagi akal manusia biasa untuk memahaminya. Sebagai contoh karomah ialah seperti dapat dilihat adanya peristiwa Maryam yang disebut dalam surat Ali Imron ayat 37, juga peristiwa Ashabul Kahfi dalam surat al kahfi ayat 25 dan tidak berbeda pula halnya dengan Karomah-karomah Para Habaib dan Para Ulama yang saya tulis tersebut seperti karomahnya Al Habib Abduloh bil Faqih yang selalu bertemu langsung dengan Rosululloh begitu pula dengan KH.Hamim Djazuli (Gus Miek) yang melakukan dakwahnya ditempat hiburan malam.
Orang yang menolak karamah al-awliya’, disebabkan mereka tidak mengetahui persoalan ini kecuali kulitnya saja. Mereka tidak mengetahui perlakuan Allah terhadap para wali. Sekiranya orang tersebut mengetahui hal-ihwal para wali dan perlakuan Allah terhadap mereka; niscaya mereka tidak akan menolaknya. Penolakan mereka terhadap karamah al-awliya’, disebabkan oleh kadar akses mereka terhadap Allah hanya sebatas menegaskan-Nya; bersungguh-sungguh di dalam mewujudkan kejujuran (al-shidq); bersikap benar dalam mewujudkan kesungguhan sehingga meraih posisi al-qurbah (dekat dengan Allah). Sementara mereka buta terhadap karunia dan akses Allah kepada hamba-hamba pilihan-Nya. Demikian juga buta terhadap cinta (mahabbah) dan kelembutan (ra’fah) Allah kepada para wali. Apabila mereka mendengar sedikit tentang hal ini, mereka bingung dan menolaknya.
C.HIERARKI KEWALIAAN
Syaikhul Akbar Ibnu Araby dalam kitab Futuhatul Makkiyah membuat klasifikasi tingkatan wali dan kedudukannya. Jumlah mereka sangat banyak, ada yang terbatas dan yang tidak terbatas. Sedikitnya terdapat 9 tingkatan, secara garis besar dapat diringkas sebagai berikut :
  1. Wali Aqthab atau Wali Quthub
  2. Wali yang sangat paripurna. Ia memimpin dan menguasai wali diseluruh alam semesta. Jumlahnya hanya seorang setiap masa. Jika wali ini wafat, maka Wali Quthub lainnya yang menggantikan.
  3. Wali Aimmah
    Pembantu Wali Quthub. Posisi mereka menggantikan Wali Quthub jika wafat. Jumlahnya dua orang dalam setiap masa. Seorang bernama Abdur Robbi, bertugas menyaksikan alam malakut. Dan lainnya bernama Abdul Malik, bertugas menyaksikan alam malaikat.
  4. Wali Autad
    Jumlahnya empat orang. Berada di empat wilayah penjuru mata angin, yang masing-masing menguasai wilayahnya. Pusat wilayah berada di Kakbah. Kadang dalam Wali Autad terdapat juga wanita. Mereka bergelar Abdul Haiyi, Abdul Alim, Abdul Qadir dan Abdu Murid.
  5. Wali Abdal
    Abdal berarti pengganti. Dinamakan demikian karena jika meninggal di suatu tempat, mereka menunjuk penggantinya. Jumlah Wali Abdal sebanyak tujuh orang, yang menguasai ketujuh iklim. Pengarang kitab Futuhatul Makkiyah dan Fushus Hikam yang terkenal itu, mengaku pernah melihat dan bergaul baik dengan ke tujuh Wali Abdal di Makkatul Mukarramah.
    Pada tahun 586 di Spanyol, Ibnu Arabi bertemu Wali Abdal bernama Musa al-Baidarani. Abdul Madjid bin Salamah sahabat Ibnu Arabi pernah bertemu Wali Abdal bernama Mu’az bin al-Asyrash. Beliau kemudian menanyakan bagaimana cara mencapai kedudukan Wali Abdal. Ia menjawab dengan lapar, tidak tidur dimalam hari, banyak diam dan mengasingkan diri dari keramaian.
  6. Wali Nuqoba’
    Jumlah mereka sebanyak 12 orang dalam setiap masa. Allah memahamkan mereka tentang hukum syariat. Dengan demikian mereka akan segera menyadari terhadap semua tipuan hawa nafsu dan iblis. Jika Wali Nuqoba’ melihat bekas telapak kaki seseorang diatas tanah, mereka mengetahui apakah jejak orang alim atau bodoh, orang baik atau tidak.
  7. Wali Nujaba’
    Jumlahnya mereka sebanyak 8 orang dalam setiap masa.
  8. Wali Hawariyyun
    Berasal dari kata hawari, yang berarti pembela. Ia adalah orang yang membela agama Allah, baik dengan argumen maupun senjata. Pada zaman nabi Muhammad sebagai Hawari adalah Zubair bin Awam. Allah menganugerahkan kepada Wali Hawariyyun ilmu pengetahuan, keberanian dan ketekunan dalam beribadah.
  9. Wali Rajabiyyun
    Dinamakan demikian, karena karomahnya muncul selalu dalam bulan Rajab. Jumlah mereka sebanyak 40 orang. Terdapat di berbagai negara dan antara mereka saling mengenal. Wali Rajabiyyun dapat mengetahui batin seseorang. Wali ini setiap awal bulan Rajab, badannya terasa berat bagaikan terhimpit langit. Mereka berbaring diatas ranjang dengan tubuh kaku tak bergerak. Bahkan, akan terlihat kedua pelupuk matanya tidak berkedip hingga sore hari. Keesokan harinya perasaan seperti itu baru berkurang. Pada hari ketiga, mereka menyaksikan peristiwa ghaib.Berbagai rahasia kebesaran Allah tersingkap, padahal mereka masih tetap berbaring diatas ranjang. Keadaan Wali Rajabiyyun tetap demikian, sesudah 3 hari baru bisa berbicara.Apabila bulan Rajab berakhir, bagaikan terlepas dari ikatan lalu bangun. Ia akan kembali ke posisinya semula. Jika mereka seorang pedagang, maka akan kembali ke pekerjaannya sehari-hari sebagai pedagang.
  10. Wali Khatam
    Khatam berarti penutup. Jumlahnya hanya seorang dalam setiap masa. Wali Khatam bertugas menguasai dan mengurus wilayah kekuasaan ummat nabi Muhammd,saw.
derajat Wali yang disandang sesorang itu adalah merupakan anugrah dari Alloh yang telah dicapai seorang hamba dalam mencari Hakekat Alloh ( Arifbillah). Bahkan ibadahnya seorang wali itu lebih utama dibandingkan dengan ibadahnya seorang Ulama yang A’lim.Kenapa demikian ? seorang Wali telah mencapai hakekat Alloh sedangkan seorang ulama baru tahap mencari jalan untuk mencapai hakekat Alloh.  wali dapat diketahui dengan wali yang lain ada juga seseorang yang menjadi wali Alloh tapi dirinya tidak tahu bahwa dia seorang Wali. Wallulloh a’lam.
Dalam khazanah Majelis Zikir Manganthi, karomah adalah ilmu yang dianugerahkan oleh waliyullah, dan dengan doa beliau kita diberikan daya karomah untuk perlindungan diri, perlindungan rumah, penyembuhan, menyadarkan orang kesurupan, tarik pusaka, dan masih banyak lagi manfaat karomah yang tidak bisa saya sebutkan satu persatu.
Read more >>

Batavia

CITY oude
is niet erg breed gebied. In het verleden, de stadsmuur en gracht omgeven. De omvang van het gebied rond de toren Syahbandar op de Vismarkt aan Jl. Asemka - Jl. De stenen brug nu. Batavia stad plan werd ontworpen door Simon Stevin op verzoek van het bestuur van VOC in de Nederlandse overheid (1618). In de geest van JP. Coen, zal Batavia de hoofdstad van een groot handelsimperium van de Kaap de Goede Hoop tot Japan door de Nederlanders die monopoliseren. Hij werd ook veroordeeld tot Shipyard en ziekenhuizen, een groot aantal logementen en winkels (in P.Ontrust), twee kerken (binnen en buiten het kasteel) en een school te bouwen (locatie onduidelijk). Niet alle Coen dromen te verwezenlijken. Coan die de stichter van Batavia als te controversieel, en zelfs door koloniale historici van de 20ste eeuw, Javan den Chijs, zei dat "zijn naam altijd bloed ruiken." Ondanks dat alles, op de verjaardag van Batavia naar 250 (1869) in Waterloo Plein (Plein Bull), een standbeeld van JP Coen ontwaakt een Napoleon-achtige vormen. Echter, in oorlogstijd, zijn de Japanse gesmolten in een metalen standbeeld van de oude. Het centrum ligt op het voormalig stadhuis, nu het Museum van de Geschiedenis. Gebouw van twee verdiepingen in het centrum van de oude stad werd voltooid in 1712. Nochtans, had twee jaar eerder is geopend door de gouverneur-generaal Abraham van Riebeeck (1653-1713). Over het gebouw zelf is eigenlijk een tweede stadhuis van de eerste Balikota kleiner en eenvoudiger, en werd opgericht in 1620 en duurde enkele jaren. In het begin van de activiteiten in het Stadhuis, naast het verzorgen van de publieke zaak ook in voor het probleem van het huwelijk, gerechtelijke en de handel te nemen, dus zodra mensen kennen hem als "Huis Talk". Later Hall ook een zeer eng gevangenis naast worden gebruikt als het midden van de militie of schutterij in 1620 tot 1815. Commander is de voorzitter van de gemeenteraad. De militie bestaat uit de griffier en de burgers van andere Nederlandse steden, mensen en de bedrijven Mardijkers bewoners van verschillende stammen. Er zijn onder andere, de militie van de Javanen, de Bugis, de Maleiers en de Balinees. Militie van de commandopost in het stadhuis, en het veld van tevoren wordt gebruikt als een fitnessruimte. In augustus 1816 worden de Town Hall om historische gebeurtenissen te plaatsen: Sir John Fendall terug te keren naar Nederlands-Indië, zodat de voorlopige regering de Britten (1811-1816) beëindigd. In 1925 werd dat gebouw Stadhuis secretariaat van de provincie West-Java tot de Tweede Wereldoorlog. Batavia gemeentelijke overheid gaat nu op zijn plaats in Medan Merdeka Selatan verdiepingen tellende gebouw naast het Jakarta administratie nu. Na de Tweede Wereldoorlog, werd het stadhuis gebruikt als hoofdkwartier van het leger (Kodim 0503). Toen Ali Sadikin gouverneur was, herstelde het gebouw zeer goed, en sinds 1974 werd het Jakarta History Museum. Inmiddels is de eerste vorm van de stad Batavia gepland in overeenstemming met de Nederlandse gewoonte, met rechte straten en grachten. De ontwikkeling van deze stad niet eens wijken in het jaar 1627 en 1629 de stad Batavia op slot Mataram leger. Na de dood van JP Coen (1629), de snellere ontwikkeling van de stad onder de Gouverneur-Generaal Jacques Specx. Big time wikkeling in eerste instantie verwaarloosd en rechtgetrokken in een greppel dwars door de stad. Kasteel of fort, dat is de woning en kantoren van ambtenaren VOC kanon geplaatst op de vierde kamp, ​​en de soldaten naar de woning van de hoge ambtenaren en kostbaarheden te bewaken worden opgeslagen achter een sterke muur. Over de grote tijden en plassen, dat uitsteekt in het noord-westen, werd opgericht Bastion Culemborg naar de haven te beveiligen. Bastion of bolwerk is er nog steeds. In 1839 de toren Syahbandar opgericht in. Achter de stadsmuur, die tot begint bij Culemborg en rond de stad tot 1809, bouwde de verschillende magazijnen op het westen (midden 17de eeuw). Deze magazijnen gebruikt om artikelen op te slaan, zoals nootmuskaat, peper, en dan koffie en thee. De meeste van de belangrijke magazijn is nu in gebruik als Maritime Museum. Ouder dan al het magazijn is Compagnies, Timmer en Scheepswerf (Wood Shop en Shipyard Kumpeni). Maritiem Museum van het land waar de tijd stond op de werf begon haar activiteiten is nog steeds de moerassen en vijvers. Scheepswerf werkt op een plaats op dit moment sinds 1632, op de grond aan de westelijke oever urukan Kali Besar. Tot de afsluiting Ciliwung in Glodok (1920), Kali Besar Ciliwung dit kanaal water aan de Vismarkt. Maar nu de enige keer dat het water dat stroomt door Krukut alleen Kali Besar. Geweldige tijd op deze, tot aan het begin van de 18e eeuw is een elite gebied van Batavia. Rond de regio ook een huis gebouwd Koppel tegenwoordig bekend als de Rode Store, zoals balken, kozijnen en wandplaat schilderde het rood. Dit huis werd gebouwd in 1730 door G.von Inhoff voordat hij gouverneur-generaal. Op deze de 18e eeuw ook, zou bekend worden als het van het Oosten Koningin (Koningin van het Oosten), omdat het gebouw en de omgeving, een prachtige Europese stijl stad die wordt weergegeven in de tropische continenten. Echter, aan het eind van de 18e eeuw, is het beeld van de Koningin van het Oosten dramatisch gedaald. Willard A. Hanna (Tale Jakarta) merkte op, dat het incident werd voorafgegaan door aardbevingen zijn niet het spelen van de enorme omvang, de nacht van 4 en 5 november 1699, die grote schade aan gebouwen veroorzaakt en verstoren watervoorziening en verwoestte het drainagesysteem in de hele regio. De aardbeving ging gepaard met vulkanische uitbarstingen en zware as val, waardoor de grachten te zijn vol met modder. Ciliwung rivier stromen veranderingen en brengen de vele afzettingen naar de plaats waar de rivier uitmondt in de zee, dus het kasteel dat oorspronkelijk naast de zee, alsof hij zou aftreden minimaal 1 kilometer landinwaarts. Mede om de drainage problemen aan te pakken en voor een deel ook om nieuwe gebieden te openen in de buitenwijken, hebben de autoriteiten veranderde het bestaande kanaal systeem op grote schaal. Het openen van belangrijke nieuwe kanaal net ten zuiden van de stad in 1732, viel samen met de daling van de eerste grote uitbraak van een ziekte, die nu wordt verondersteld om malaria, een nieuwe ramp voor stedelingen, die herhaaldelijk heeft last van dysenterie en cholera (in de tijd het is niet bekend , althans in Batavia, dat de kiemen in het water zou sterven als het water gekookt worden, maar volgens de Haan bevolking Banjarmasin Ambon in 1661 en het einde van de 17e eeuw was het kookvocht om bacteriën te doden, maar dit dier is nog niet bekend. Sinds 1744 de patiënt thuis ziek worden thee en koffie, want het water is vervuild. In 1753 de gouverneur-generaal Mossel op advies van een arts stelde voor dat het water een keer verplaatst van schip naar schip door te laten vuil bezinken tot ze schoon zijn. dan niet gekookt worden. Tot het einde van de 19e eeuw veel mensen niet schelen en het drinken van water als vanzelfsprekend Ciliwung). Kan haast niet voorstellen hoe ongezond de stad en het omliggende gebied in de 18e eeuw. Rijke mensen zijn in staat om hun huizen te verlaten in Jl. Prins Jayawikarta (Witte Roos) en naar het zuiden in de Jl. Nu Gajah Mada en Field Bull. Maar niet zo met de armen, dus zelfs niet meer kunnen veroorloven om goed te worden begraven. En werden ze vervolgens begraven op het kerkhof slaven waren gekocht, op een locatie die nu is de thuisbasis van de City Station tuin op het noorden Geraja Sion. Vandaar dat de Batavia aan het eind van de 18e eeuw had een nieuwe bijnaam als Het Graf der Hollander (Nederlandse begraafplaats). De volgende resultaat, na 1798, veel grote gebouwen in de stad van het oude dorp van Mardijkers ook gebruikt als een 'steengroeve' om nieuwe huizen te bouwen in gebieden verder naar het zuiden. 'De mijn rots' is omdat er zoveel mensen zijn moeilijk om voedsel te krijgen en omdat het gebied ten zuiden van het centrum is gebouwd, dan is de arme mensen in die tijd dat veel van zijn huis maakt en verkocht de rots aan voedsel te komen. En, John Crawfurd in zijn Beschrijvende Woordenboek van de Indische eilanden en aangrenzende landen (Londen, 1856) schreef: "De Nederlandse merken niet een verschil van ongeveer vijfenveertig graden noorderbreedte, de tijd bouwden ze een stad naar het voorbeeld van de Nederlandse steden. Bovendien is de stad werd gesticht op de zes graden van de breedtegraad van de evenaar en bijna op zeeniveau. Ciliwung rivier die stroomt door de hele stad met vele malen, niet langer uitgevoerd als volledige waarborgsom Deze situatie uitbraken van malaria, door wind zelfs landen in de straten de stad waardoor Hierdoor verspreiding van de ziekte uit de dodelijke koorts Deze situatie is samengesteld -... tachtig jaar na Batavia werd opgericht - door een reeks van grote aardbevingen die plaatsvond op 4 en 5 november 1699 werd de aardbeving de oorzaak van de vulkanische lawines, waar de basis van deze waterbron stroming van het water wordt gedwongen om nieuwe manieren en veel modder meegesleurd vinden Geen twijfel, vele malen... in Batavia, zelfs-tanggulnya dijken, gevuld met modder. Het overwinnen van de benarde toestand van de overheid het onlangs geïmplementeerd in de tijd van de Franse maarschalk Daendels 1809 (Franse tijd eigenlijk alleen duurde van februari tot augustus 1811). Tegenmaatregelen worden doorgegeven tot in 1817 onder Nederlands bestuur wordt hersteld. Vele malen voorraden en de links-rechts-versterkte rivierdijken tot een mijl in de baai. Voortgezette bedrijfsactiviteiten door een bevoegde ingenieur, in geslaagd om de stroom van de rivier te normaliseren. Batavia daarna niet minder gezond dan een tropisch strand stad. Een deel van een nieuwe stad of buitenwijken hebben nog nooit een slechte reputatie. " Ondertussen, op 09 mei 1821 Bataviasche Courant meldde dat 158 ​​mensen overleden aan cholera in de stad en drie dagen later 733 meer slachtoffers in de Batavia gebied. Het ziekenhuis is nog steeds erg lelijk en de enige mensen die zeer sterk zijn, dat kan het ziekenhuis verlaten zaal in leven. Deze tragedie het einde van het verhaal van Oud Batavia en in de vroege vorming van Niew Batavia (Batavia Nieuw) in Weltevreden land (ongeveer Gambier vandaag). Dit is de verschrikkelijke tragedie van een stad bevolking van fouten in het beheer van de omgeving. Zal deze tragedie gebeuren? Alles hangt af van onze wijsheid bij het begrijpen van de natuurlijke omgeving die volledig beperkt in de aanwezigheid van menselijke passie die vaak verder gaan dan de grenzen van het redelijke.
Read more >>

batavia

Soon every June 22 DKI Jakarta to celebrate her always with great fanfare. But you know, actually the names of cities or areas in Jakarta has a history as Gambir, Lebak machinations, Pancoran, Glodok, Pasarminggu and many others. Well, I try to compile into an interesting reading and hopefully can be useful for "kite" the Betawi people ... Word Origins Betawi Betawi is another name for the city of Jakarta and at the same designations for indigenous origin living in Jakarta - the proposal is there any mention of the name of Batavia some versions. The first version states that the name comes from a pun name Betawi Batavia. Batavia's name comes from the name given by JP Coen for the city should be built at the beginning of VOC in Jakarta. City of Batavia was built Coen is now called the City or the old city of Jakarta. Because foreign to the community Batavia native words, it is often read by the Betawi. The second version states that the name of the Betawi had oral literature begins with the historical events that originated from the attack of Sultan Agung (Mataram) to the fortified city of Batavia. Because besieged days and - days and have run out ammunition, the men (soldiers) J.P. Coen was forced to make a cannon ball from the human waste matter is that it fired kepasukan Mataram bring a bad odor, spontaneous Mataram forces are generally Java was screaming calling tainted ..... tai, tai tainted. Then in conversations a day - the day is often called the City of Batavia with the smell of tai and then changed as the Betawi. The three versions of the Betawi Malay vocabulary Sambas (West Kalimantan), which means the Subang / Earrings. Sambas Malay population is predominantly ethnic in the 10th century shift the position of language as a Lingua Franca Sunda Kawi. When there is competition between the Malay kingdom of Srivijaya wong wong Java with none other than the kingdom of Kadiri. Competition is then the war and bring the Chinese to intervene as a mediator because they disrupted commerce. Peace is reached, the control of the sea divided into two, east of the start of Srivijaya controlled Cimanuk, east of the start of Kediri Kediri controlled. This means that the port Kalapa including control of Srivijaya. Srivijaya dynasty which then asks its partners in Central Java to help oversee the territorial waters of Srivijaya in western Java. But it turns out the ignorant Syailendara bringing Srivijaya Malay migrants to Kalapa western Borneo. Origin of Gambier City Now just a memory Gambier village, what remains is the name and the name of the Gambier Village Gambir station that remains in one of the existing station in Central Jakarta. Region including the Gambier area boundary - the limit is: Veteran northern road, the road Kebon Sirih South, West and East streets Mojopahit Ciliwung times. Gambir word has been known since the name, since this region began to refer to as the local community who see the number of trees that grew gambier this region. Before Daendles as developed by the Dutch East Indies government center in a new area called Weltevreden, the history of this area began in 1658 was still a swamp - marsh and meadow grass. By the owner named Anthony Paviljoen this area has been leased to the Chinese began to work on a sugar cane farm, vegetable farming - vegetables and rice. After growing market in this area arises as a market place continues memeperingati Dutch queen's birthday the night market is held every year. Market continues to grow and it's called Gambir market. After Daendels ruling and moving the center of the city government to Weltevreden which in Dutch means the most ideal place for settlement location (great place), the Dutch began to build a wide range of urban infrastructure in these new areas. One of the famous urban facilities at the time was a field called Koningsplein also by local people with the name of the field Ikada (Athletics Association of NSW). Field is reminiscent of the people of Jakarta rally events that occurred this IKADA field. In the past, this field there is a bevy of sports and the most famous is Bataviaasche Sport Club (BSC) and Batavia, Buitenzorg Wedloop Societet (BBWS). BSC is a regular sports clubs and sports associations BBWS are riding. After construction of the National Monument (Monas) began in 1962, Golf Gambir and housing Department of Public Works (MPW), as well as housing Djawatan Railway (DKA) joined displaced displaced to participate as well and the market's name is enshrined on the location of Pekan Raya Jakarta (PRJ) in Kemayoran. What was left of the word Gambir to the present is Gambir station name and the name of Gambier Village. Click here if you see the sequel Origin of Lebak Bulus ok .. now we've reached the valley struck ... This is his story: Lebak Bulus area into an urban village of today, Kleurahan Lebak Bulus, District Cilandak, South Jakarta Municipality. The name is taken from the office and fauna swampy ground means "valley" and the machinations of the "Turtles - turtles that live on land and fresh water" (1951:192 Satjadibrata, 56), so it can be likened to the valley of the tortoise. Perhaps in earlier times in Kali Kali Pesanggrahan Grogoldan flowing in the region many turtles - turtles, alias fleeced. By virtue of Land Ownership (Erfbrief) issued by the authorities in Batavia, dated 2 September 1675 Lebakbulus area is owned by Mr. and Mr. Made Candra, which can be inherited. According to the diary at the Castle of Batavia, dated February 12, 1687 Mr Made was a lieutenant of Java. (At that time every native of the island of Java, called Java, do not call it distinguished between the Javanese, Sundanese and Madurese). Because the soil is very fertile, the area was made by Mr. Made open fields and gardens, which in turn were well maintained. But after he died on August 16, 1720, for no apparent reason, the whole land was taken back by the Company, to then fall into the hands of Europeans, who changed his name to Simplicitas (read: simplicity) (De Haan, 1911: 167). Around the year 1789 the area was listed as owned by David John Smith. Maybe by him sold to Pieter Welbeeck which in 1803 listed as owner (De Haan, 1910:103). On a map published by the Bureau Topograpisch 1900, in the west - the area was still listed the location of the cottage (Landhuis) named Simplicitas, not so far from the rice mills are located on the eastern edge of Kali Pesanggrahan. Origin of Batu Ampar Batu Ampar which is part of the Condet, even so-called Condet Batuampar, today became a village, Village Batuampar, Keramatjati subdistrict, East Jakarta Municipality. Batuampar villages in the region west adjacent to the Village Balekambang, (full Condet Balekambang), which is historically related to each other. There is a legend attached to the name of the place as described by people - parents in Condet to Ran Ramelan, author of the booklet titled Condet, as follows. In earlier times there is a husband and wife, whose name was Prince Geger and Nyai Pods, own a couple of kids. One of her sons, women, given the name Siti Maemunah, known to be very beautiful. When spoken by an adult Maemunah East Prince or Tonggara Makasar origin who lived in the east Condet, to one of his son, named Prince Astawana. To be woken up a home and a place of fun - fun in the pond, near the time Ciliwung, which must be completed in one night. The request was affordable and proven, according to sahibulhikayat, is available the next day and a bale house on a pond at the edge of time Cliwung, well connected by road diampari with stones, ranging from the family residence of the Prince Southeast. Thus, according to the story, where people might walk the stone path diampari hereinafter Batuampar, and bale (Hall) who seemed to rest - if floating in the water pool used place names. Balekambang. In the early twentieth century in the arts college there Batuampar among others, led by Maliki and Modin (Pusponegoro, 1984, IV: 295). In 1986, a martial arts teacher in Batuampar, Saaman, was selected as one of his staff instructor of martial arts in the Netherlands, for two years. Not impossible, Saaman proficiency as a fighter, so it was chosen to be teachers in foreign it is skill decreased - from generation to generation.
Read more >>

jujur

Apa salah ya kita sebagai manusia selalu ingin menang sendiri dan merasa ingin menjadi yang selalu di atas??? nyata nya orang yang sering berperilaku seperti itu bisa meraih kesuksesan sehingga membuat orang lain yang melihat diri nya ingin selalu meniru apa yang orang itu perbuat, termasuk perbuatan yang tidak bagus dan kurang wajar di mata orang lain. Menjadi manusia yang jujur dan baik susahnya minta ampun, jd orang jujur belum tentu bisa langsung kaya, beda hal nya dengan orang yang tidak jujur mereka bisa langsung meraih sukses dan bisa kaya dalam sekejap.
Setiap manusia mempunyai keinginan yang beraneka ragam entah itu dari masalah pekerjaan, masalah ekonomi, dan kehidupan sehari-hari...dll. kadang iri melihat para pejabat tinggi yang mempunyai jabatan yang terpandang dengan penghasilan yang sangat menguntungkan bagi keluarga dan kerabat dekatnya, sedangkan untuk kalangan bawah yang sangat memperihatinkan membuat orang yang merasa dirinya cukup ikut merasakan dampak sedih jika melihat orang-orang yang masih banyak membutuhkan biaya untuk makan saja mereka susah nya minta ampun, bagaimana untuk yang lainnya seperti tempat tinggal pun mereka tidak punya. Sedangkan untuk para petinggi di dunia ini bisa merasakan apa yang iya inginkan dapat terwujud dengan sangat mudah, entah itu hasil dari pekerjaan yg selama ini mereka tekuni atau dari dana yang tidak wajar mereka terima. " Semoga Tuhan selalu adil dalam kehidupan setiap manusia Nya " Manusia hanya bisa berusaha dan berdoa untuk kelangsungan hidup nya, beda dengan orang yang munafik untuk sekedar menjadi orang kaya semata.
Read more >>

zaman JOYOBOYO

Pancen amenangi jaman edan, sing ora edan ora kaduman. Sing waras padha nggragas, sing tani padha ditaleni. Wong dora padha ura-ura. Begjane sing eling lan waspada. Ratu ora netepi janji, musna prabawane lan kuwandane. Akeh omah ing ndhuwur kuda. Wong mangan wong, kayu gilingan wesi padha doyan rinasa enak kaya roti bolu. Yen bakal nemoni jaman: akeh janji ora ditetepi, wong nrajang sumpahe dhewe. Manungsa padha seneng tumindak ngalah tan nindakake ukum Allah. Bareng jahat diangkat-angkat, bareng suci dibenci. Akeh manungsa ngutamakake reyal, lali sanak lali kadang. Akeh bapa lali anak, anak nladhung biyunge. Sedulur padha cidra, kulawarga padha curiga, kanca dadi mungsuh, manungsa lali asale. Rukun ratu ora adil, akeh pangkat sing jahat jahil. Makarya sing apik manungsa padha isin. Luwih utama ngapusi. Kelakuan padha ganjil-ganjil. Wegah makarya kapengin urip, yen bengi padha ora bisa turu. Wong dagang barange saya laris, bandhane ludhes. Akeh wong mati kaliren ing sisihe pangan. Akeh wong nyekel bandha uripe sangsara. Sing edan bisa dandan. Sing mbangkang bisa nggalang omah gedhong magrong-magrong. Wong waras kang adil uripe nggragas lan kapencil. Sing ora bisa maling padha digething. Sing pinter duraka padha dadi kanca. Wong bener thenger-thenger, wong salah bungah-bungah. Akeh bandha muspra ora karuwan larine. Akeh pangkat drajat padha minggat ora karuwan sababe. Bumi saya suwe saya mungkret. Bumi sekilan dipajegi. Wong wadon nganggo panganggo lanang. Iku tandhane kaya raja kang ngumbar hawa napsu, ngumbar angkara murka, nggedhekake duraka. Wong apik ditampik, wong jahat munggah pangkat. Wong agung kesinggung, wong ala pinuja-puja. Wong wadon ilang kawanitane, wong lanang ilang kaprawirane. Akeh jago tanpa bojo. Wanita padha ora setya, laku sedheng bubrah jare gagah. Akeh biyung adol anak, akeh wanita adol awak. Bojo ijol-ijolan jare jempolan. Wong wadon nunggang jaran, wong lanang numpang slendhang pelangi. Randha loro, prawan saaga lima. Akeh wong adol ngelmu. Akeh wong ngaku-aku, njaba putih njerone dhadhu. Ngakune suci, sucine palsu. Akeh bujuk. Wektu iku dhandhang diunekake kuntul. Wong salah dianggep bener, pengkhianat nikmat, durjana saya sampurna. Wong lugu keblenggu, wong mulya dikunjara, sing curang garang, sing jujur kojur. Wong dagang keplanggrang, wong judhi ndadi. Akeh barang kharam, akeh anak-anak kharam. Prawan cilik padha nyidham. Wanita nglanggar priya. Isih bayi padha mbayi. Sing priya padha ngasorake drajate dhewe. Wong golek pangan kaya gabah den interi. Sing klebat kliwat, sing kasep keplesed. Sing gedhe rame tanpa gawe, sing cilik kecelik. Sing anggak kalenggak. Sing wedi padha mati, nanging sing ngawur padha makmur, sing ngati-ati sambate kepati-pati. Cina olang-aling kepenthung dibandhem blendhung, melu Jawa sing padha eling. Sing ora eling padha milang-miling, mloya-mlayu kaya maling, tudang-tuding. Mangro tingal padha digething. Eling, ayo mulih padha manjing. Akeh wong ijir, akeh wong cethil. Sing eman-eman ora kaduman, sing kaduman ora aman. Selot-selote besuk ngancik tutupe taun, dewa mbrastha malaning rat, bakal ana dewa angejawantah, apangawak manungsa. Apasuryan padha Bathara Kresna. Awewatak Baladewa. Agegaman trisula wedha. Jinejer wolak-waliking jaman, wong nyilih mbalekake, wong utang mbayar. Utang nyawa nyaur nyawa, utang wirang nyaur wirang. Akeh wong cinokot lemud mati. Akeh swara aneh tanpa rupa. Bala prewangan, makhluk alus padha baris, padha rebut bebener garis. Tan kasat mata tanpa rupa, sing mandhegani putra Bathara Indra, agegaman trisula wedha. Momongane padha dadi nayakaning prang, perange tanpa bala, sekti mandraguna tanpa aji-aji. Sadurunge teka ana tetenger lintang kemukus dawa ngaluk-aluk, tumanja ana kidul sisih wetan bener, lawase pitung bengi. Parak esuk banter, ilange katut Bthara Surya, jumedhul bebarengan karo sing wus mungkur. Prihatine kawula kelantur-lantur. Iku tandhane putra Bathara Indra wus katampa lagi tumeka ing ngarcapada, ambiyantu wong Jawa. Dununge ana sikile redi Lawu sisih wetan. Adhedukuh pindha Raden Gathutkaca, arupa gupon dara tundha tiga. Kaya manungsa asring angleledha, apeparab Pangeraning Prang, tan pakra anggone anyenyandhang, nanging bisa nyembadani ruwet-rentenge wong sapirang-pirang. Sing padha nyembah reca ndhaplang, cina eling, Syeh-syeh pinaringan sabda gidrang-gidrang. Putra kinasih swarga Sunan Lawu, ya Kyai Brajamusthi, ya Kresna, ya Herumurti, mumpuni sakehing laku, nugel tanah Jawa kaping pindho. Ngerehake sakabehing para jim, setan, kumara, prewangan. Para lelembut kabawah prentah saeka praya kinen abebantu manungsa Jawa. Padha asenjata trisula wedha, kadherekake Sabdopalon Nayagenggong. Pendhak Suro nguntapake kumara, kumara kang wus katam nebus dosanira, kaadhepake ngarsane kang Kuwasa. Isih timur kaceluk wong tuwa, pangiride Gathutkaca sayuta. Idune idu geni, sabdane malati, sing bregudul mesthi mati. Ora tuwa ora enom, semono uga bayu wong ora ndayani. Nyuwun apa bae mesthi sembada, garise sabda ora gantalan dina. Begja-begjane sing yakin lan setya sabdanira. Yen karsa sinuyutan wong satanah Jawa, nanging pilih-pilih sapa waskitha pindha dewa. Bisa nyumurupi laire embahira, buyutira, canggahira, pindha lair bareng sadina. Ora bisa diapusi amarga bisa maca ati. Wasis wegig waskitha ngreti sadurunge winarah, bisa priksa embah-embahira, ngawuningani jaman tanah Jawa. Ngreti garise siji-sijining umat, tan kalepyan sumuruping gegaman. Mula den udia satriya iki, wus tan bapa tan bibi, lola wus aputus wedha Jawa. Mula ngendelake trisula wedha, landhepe trisula : pucuk arupa gegawe sirik agawe pepati utawa utang nyawa. Sing tengah sirik agawe kapitunaning liyan, sing pinggir tulak talak colong jupuk winaleran. Sirik den wenehi ati melathi, bisa kasiku. Senenge anyenyoba, aja kaina-ina. Begja-begjane sing dipundhut, ateges jantrane kaemong sira sabrayat. Ingarsa begawan wong dudu pandhita. Sinebut pandhita dudu dewa. Sinebut dewa kaya manungsa, kinen kaanggep manungsa sing seje daya. Tan ana pitakonan binalekake, tan ana jantra binalekake. Kabeh kajarwakake nganti jlentreh gawang-gawang terang ndrandang. Aja gumun aja ngungun, yaiku putrane Bathara Indra kang pambayun, tur isih kuwasa nundhung setan. Tumurune tirta brajamukti, pisah kaya ngundhuh. Ya siji iki kang bisa njarwakake utawa paring pituduh jangka kalaningsun. Tan kena den apusi amarga bisa manjing jroning ati. Ana manungsa kaiden katemu, uga ora ana jaman sing durung kalamangsane. Aja serik aja gela iku dudu waktunira, ngangsua sumur ratu tanpa makutha. Mula sing amenangi gek enggala den luru, aja nganti jaman kandhas. Madhepa den amarikelu. Begja-begjane anak putu, iku dalan sing eling lan waspada, ing jaman Kalabendu nyawa. Aja nglarang dolan nglari wong apangawak dewa, dewa apangawak manungsa. Sapa sing ngalang-ngalangi bakal cures ludhes sabraja dlama kumara. Aja kleru pandhita samudana, larinen pandhita asenjata trisula wedha. Iku paringe dewa. Ngluruge tanpa wadyabala. Yen menang datan ngasorake liyan. Para kawula padha suka-suka amarga adiling Pangeran wus teka. Ratune nyembah kawula, agegaman trisula wedha. Para pandhita ya padha ngreja, yaiku momongane Kaki sabdopalon sing wus adus wirang. "mula sliramu ndang ngertiya ngger...."
Read more >>

mengenal huru jawa(jowo)

(1) HA NA CA RA KA: hana1.jpg Ha: Hurip = hidup Na: Legeno = telanjang Ca: Cipta = pemikiran, ide ataupun kreatifitas Ra: Rasa = perasaan, qalbu, suara hati atau hati nurani Ka: Karya = bekerja atau pekerjaan. (2) DA TA SA WA LA hana2.jpg DA TA SA WA LA (versi pertama): Da: Dodo = dada Ta: Toto = atur Sa: Saka = tiang penyangga Wa: Weruh = melihat La: lakuning Urip = (makna) kehidupan. DA TA SA WA LA (versi kedua): Da-Ta (digabung): dzat = dzat Sa: Satunggal = satu, Esa Wa: Wigati = baik La: Ala = buruk (3) PA DHA JA YA NYA: hana3.jpg PA DHA JA YA NYA =Sama kuatnya (tidak diartikan per huruf). (4) MA GA BA THA NGA : hana4.jpg Ma: Sukma = sukma, ruh, nyawa Ga: Raga = badan, jasmani Ba-Tha: bathang = mayat Nga: Lungo = pergi Tetapi selanjutnya dengan sedikit ngawur saya pribadi akan berusaha menyelami dan menjabarkan tafsir huruf Jawa versi Ki Hadjar tersebut sesuai dengan kemampuan saya. Kalau banyak kesalahan ya mohon dimaklumi karena saya bukanlah seorang filusuf, saya hanya ingin mengenal lebih jauh huruf Jawa (walaupun secara ngawur dengan cara sendiri). (1) HA NA CA RA KA: Ha: Hurip = hidup Na: Legeno = telanjang Ca: Cipta = pemikiran, ide ataupun kreatifitas Ra: Rasa = perasaan, qalbu, suara hati atau hati nurani Ka: Karya = bekerja atau pekerjaan. Dari arti secara harfiah tsb, saya berusaha menjabarkannya menjadi dua versi: **) Ketelanjangan=kejujuran Bukankah secara fisik manusia lahir dalam keadaan telanjang? Tapi sebenarnya ketelanjangan itu tidak hanya sekedar fisik saja. Bayi yang baru lahir juga memiliki jiwa yang “telanjang”, masih suci…polos lepas dari segala dosa. Seorang bayi juga “telanjang” karena dia masih jujur…lepas dari perbuatan bohong (kecuali bayi aneh :D ). Sedangkan CA-RA-KA mempunyai makna cipta-rasa-karya . Sehingga HA NA CA RA KA akan memiliki makna dalam mewujudkan dan mengembangkan cipta, rasa dan karya kita harus tetap menjunjung tinggi kejujuran. Marilah kita “telanjang” dalam bercipta, berrasa dan berkarya. **)) Pengembangan potensi Jadi HA NA CA RA KA bisa ditafsirkan bahwa manusia “dihidupkan” atau dilahirkan ke dunia ini dalam keadaan “telanjang”. Telanjang di sini dalam artian tidak mempunyai apa-apa selain potensi. Oleh karena itulah manusia harus dapat mengembangkan potensi bawaan tersebut dengan cipta-rasa-karsa. Cipta-rasa-karsa merupakan suatu konsep segitiga (segitiga merupakan bentuk paling kuat dan seimbang) antara otak yang mengkreasi cipta, hati/kalbu yang melakukan fungsi kontrol atau pengawasan dan filter (dalam bentuk rasa) atas segala ide-pemikiran dan kreatifitas yang dicetuskan otak, serta terakhir adalah raga/tubuh/badan yang bertindak sebagai pelaksana semua kreatifitas tersebut (setelah dinyatakan lulus sensor oleh rasa sebagai badan sensor manusia). Secara ideal memang semua perbuatan (karya) yang dilakukan oleh manusia tidak hanya semata hasil kerja otak tetapi juga “kelayakannya” sudah diuji oleh rasa. Rasa idealnya hanya meloloskan ide-kreatifitas yang sesuai dengan norma. Norma di sini memiliki arti yang cukup luas, yaitu meliputi norma internal (perasaan manusia itu sendiri atau istilah kerennya kata hati atau suara hati) atau bisa juga merupakan norma eksternal (dari Tuhan yang berupa agama dan aturannya atau juga norma dari masyarakat yang berupa aturan hukum dll). (2) DA TA SA WA LA: (versi pertama) Da: Dodo = dada Ta: Toto = atur Sa: Saka = tiang penyangga Wa: Weruh = melihat La: lakuning Urip = (makna) kehidupan. DA TA SA WA LA berarti dadane ditoto men iso ngadeg jejeg (koyo soko) lan iso weruh (mangerteni) lakuning urip. Dengarkanlah suara hati (nurani) yang ada di dalam dada, agar kamu bisa berdiri tegak seperti halnya tiang penyangga dan kamu juga akan mengerti makna kehidupan yang sebenarnya. Kata “atur” bisa berarti manage dan juga evaluate sedangkan dada sebenarnya melambangkan hati (yang terkandung di dalam dada). Jadi dadanya diatur mengandung arti bahwa kita harus senantiasa me-manage (menjaga-mengatur) hati kita untuk melakukan suatu langkah evaluatif dalam menjalani kehidupan supaya kita dapat senantiasa berdiri tegak dan tegar dalam memandang dan memaknai kehidupan. Kita harus senantiasa memiliki motivasi dan optimisme dalam berusaha tanpa melupakan kodrat kita sebagai makhluk Alloh yang dalam konsep Islam dikenal dengan ikhtiar-tawakal, ikhtiar adalah berusaha semaksimal mungkin sedangkan tawakal adalah memasrahkan segala hasil usaha tersebut kepada Alloh. DA TA SA WA LA: (versi kedua) Da-Ta (digabung): dzat = dzat Sa: Satunggal = satu, Esa Wa: Wigati = baik La: Ala = buruk DA TA SA WA LA bisa ditafsirkan bahwa hanya Dzat Yang Esa-lah (yaitu Tuhan) yang benar-benar mengerti akan baik dan buruk. Secara kasar dan ngawur saya mencoba menganggap bahwa kata “baik” di sini ekuivalen dengan kata “benar” sedangkan kata “buruk” ekuivalen dengan “salah”. Jadi alangkah baiknya kalau kita tidak dengan semena-mena menyalahkan orang (kelompok) lain dan menganggap bahwa kita (kelompok kita) sebagai pihak yang paling benar. (3) PA DHA JA YA NYA: PA DHA JA YA NYA = sama kuat Pada dasarnya/awalnya semua manusia mempunyai dua potensi yang sama (kuat), yaitu potensi untuk melakukan kebaikan dan potensi untuk melakukan keburukan. Mungkin memang benar ungkapan bahwa manusia itu bisa menjadi sebaik malaikat tetapi bisa juga buruk seperti setan dan juga binatang. Mengingat adanya dua potensi yang sama kuat tersebut maka selanjutnya tugas manusialah untuk memilih potensi mana yang akan dikembangkan. Sangat manusiawi dan lumrah jika manusia melakukan kesalahan, tetapi apakah dia akan terus memelihara dan mengembangkan kesalahannya tersebut? Potensi keburukan dalam diri manusia adalah hawa nafsu, sehingga tidak salah ketika Nabi Muhammad SAW menyatakan bahwa musuh terbesar kita adalah hawa nafsu yang bersemayam dalam diri kita masing-masing. (4) MA GA BA THA NGA: Ma: Sukma = sukma, ruh, nyawa Ga: Raga = badan, jasmani Ba-Tha: bathang = mayat Nga: Lungo = pergi Secara singkat MA GA BA THA NGA saya artikan bahwa pada akhirnya manusia akan menjadi mayat ketika sukma atau ruh kita meninggalkan raga/jasmani kita. Sesungguhnya kita tidak akan hidup selamanya dan pada akhirnya akan kembali juga kepada Alloh. Oleh karena itu kita harus senantiasa mempersiapkan bekal untuk menghadap Alloh.
Read more >>

300612

“Manusia selalu hidup berkelompok. Tiada manusia yang dapat hidup dalam kesendirian. Apabila ada, maka manusia tersebut benar-benar mahluk yang malang dan hidupnya tentu tidak berwarna.”
Seorang teman tetap memberi ruang gerak pribadi, privacy sebagai seorang manusia. Dan kita akan berasa deket dengan dia walaupun ga ketemu dan ga kontak dalam waktu yang lama. Karena pertemanan itu pada dasarnya dari ikatan hati. Ga bakal ilang walaupun dimensi jarak memisahakan kita. Kita harus mengkui bagaimanapun juga kita ga bisa menghilangkan dia dari hati kita. Dan tanpa teman, kita ga akan seperti sekarang ini.
Read more >>

Boyong Masjid dalam Semalam




Sunan Sendang Duwur bernama asli Raden Noer Rahmad adalah putra Abdul Kohar Bin Malik Bin Sultan Abu Yazid yang berasal dari Baghdad (lrak). Raden Nur Rahmad lahir pada tahun 1320 M dan wafat pada tahun 1585 M. Bukti ini dapat dilihat pada pahatan yang terdapat di dinding makam beliau. Beliau adalah tokoh kharismatik yang pengaruhnya dapat disejajarkan dengan Wali Songo pada saat itu.

Bangunan Makam Sunan Sendang Duwur yang dikeramatkan oleh penduduk sekitar tersebut berarsitektur tinggi yang menggambarkan perpaduan antara kebudayaan Islam dan Hindu. Bangunan gapura bagian luar berbentuk Tugu Bentar dan gapura bagian dalam berbentuk Paduraksa. Sedangkan dinding penyangga cungkup makam dihiasi ukiran kayu jati yang bernilai seni tinggi dan sangat indah. Dua buah batu hitam berbentuk kepala Kala menghiasi kedua sisi dinding penyangga cungkup.

Makam Sunan Sendang Duwur yang letaknya di atas bukit itu, terdapat di Desa Sendang Duwur, Kecamatan Paciran. Walaupun komplek makam terletak di dataran yang cukup tinggi, tetapi bisa dijangkau oleh kendaraan umum ataupun pribadi. Sarana jalan yang sudah baik dan memadai memudahkan para pengunjung yang ingin kesana untuk berwisata ziarah.

Boyong Masjid dalam Semalam

Situs makam Raden Noer Rachmat alias Sunan Sendang Duwur makin ramai pengunjung. Selain berziarah, mereka ingin melihat peninggalan bersejarah salah satu sunan berpengaruh dalam syiar agama Islam di Jawa itu.

SEJARAH penyebaran agama Islam di Pulau Jawa tidak bisa dipisahkan dari sejarah Sunan Sendang Duwur. Bukti peninggalan, makam dan masjid kuno, memberi jawaban bagaimana kiprah sunan yang makamnya terletak di Desa Sendang Duwur, Kecamatan Paciran, Kabupaten Lamongan, itu.

Data dari berbagai sumber menyebutkan, masjid kuno itu menyimpan sejarah yang berbeda dengan pembangunan masjid lainnya. Sebab, tempat ibadah umat Islam ini tidak dibangun secara bertahap oleh Sunan Sendang Duwur, melainkan melalui suatu kemukjizatan.

Ada yang mengatakan Sunan Sendang Duwur sebagai putra Abdul Qohar dari Sedayu (Gresik), salah satu murid Sunan Drajad. Ada pula yang menyebut Sunan Sendang Duwur adalah putra Abdul Qohar tapi tidak berguru pada Sunan Drajad. Namun dari perbedaan itu, disepakati bahwa Raden Noer Rochmat akhirnya diwisuda Sunan Drajad sebagai Sunan Sendang Duwur.

Setelah mendapat gelar sunan, Raden Noer berharap bisa mendirikan masjid di Desa Sendang Duwur. Karena tidak mempunyai kayu, Sunan Drajad menyampaikan masalah ini kepada Sunan Kalijogo yang mengarahkannya pada Ratu Kalinyamat atau Retno Kencono di Mantingan, Jepara, yang saat itu mempunyai masjid.

Ratu Kalinyamat merupakan putri Sultan Trenggono dari Kraton Demak Bintoro. Suaminya bernama Raden Thoyib (Sultan Hadlirin Soho) cucu Raden Muchayat, Syech Sultan dari Aceh. Saat diangkat menjadi bupati di Jepara, R. Thoyib tidak lupa bersyiar agama Islam. Sehingga dibangun masjid megah di wilayahnya pada 1531 Masehi. Banyak ulama dan kiai saat itu kagum terhadap keindahan dan kemegahan masjid tersebut.

Setelah itu Sunan Drajat memerintahkan Sunan Sendang Duwur pergi ke Jepara untuk menanyakan masjid tersebut. Tapi apa kata Mbok Rondo Mantingan saat itu? Hai anak bagus, mengertilah, aku tidak akan menjual masjid ini. Tapi suamiku (saat itu sudah meninggal, Red) berpesan, siapa saja yang bisa memboyong masjid ini seketika dalam keadaan utuh tanpa bantuan orang lain (dalam satu malam), masjid ini akan saya berikan secara cuma-cuma.

Mendengar jawaban Mbok Rondo Mantingan, Sunan Sendang Duwur yang masih muda saat itu merasa tertantang. Sebagaimana yang diisyaratkan padanya dan tentunya dengan izin Allah, dalam waktu tidak lebih dari satu malam masjid tersebut berhasil diboyong ke bukit Amitunon, Desa Sendang Duwur. Masjid Sendang Duwur pun berdiri di sana, ditandai surya sengkala yang berbunyi: "gunaning seliro tirti hayu" yang berarti menunjukkan angka tahun baru 1483 Saka atau Tahun 1561 Masehi.

Tapi cerita lain menuturkan, masjid tersebut dibawa rombongan (yang diperintah Sunan Drajad dan Sunan Sendang Duwur) melalui laut dari Mantingan menuju timur (Lamongan) dalam satu malam. Rombongan itu diminta mendarat di pantai penuh bebatuan mirip kodok (Tanjung Kodok) yang terletak di sebelah utara bukit Amitunon di Sendang Duwur.

Rombongan dari Mantingan itu disambut Sunan Drajat dan Sunan Sendang Duwur beserta pengikutnya. Sebelum meneruskan perjalanan membawa masjid ke bukit Amitunon, rombongan itu diminta istirahat karena lelah sehabis menunaikan tugas berat.

Saat istirahat, sunan menjamu rombongan dari Mantingan itu dengan kupat atau ketupat dan lepet serta legen, minuman khas daerah setempat. Berawal dari sini, sehingga setiap tahun di Tanjung Kodok (sekarang Wisata Bahari Lamongan) digelar upacara kupatan.

Ajaran Relevan

Dari masjid inilah Sunan Sendang Duwur terus melakukan syiar agama Islam. Salah satu ajaran yang masih relevan pada zaman sekarang adalah : "mlakuho dalan kang benar, ilingo wong kang sak burimu" (berjalanlah di jalan yang benar, dan ingatlah pada orang yang ada di belakangmu. Ajaran sunan ini menghimbau pada seseorang agar berjalan di jalan yang benar dan kalau sudah mendapat kenikmatan, jangan lupa sedekah.

Hubungan Sunan Drajad dengan Sunan Sendang Duwur sangat erat dalam siar agama Islam, dan hubungan itu terus mengalir sampai kini. Terlihat, tidak jarang para peziarah ke makam Sunan Drajad di Desa Drajad, Kec. Paciran untuk singgah ke Sunan Sendang Duwur.

Masjid itu kini sudah berusia 477 tahun (didirikan R. Thoyib di Mantingan pada 1531). Karena usianya yang tua, beberapa konstruksi kayunya terpaksa diganti dan yang asli tetap disimpan di lokasi makam, di sekitar masjid. Maski masjid kuno itu sempat dipugar, arsitektur masjid peninggalan wali ini masih tampak dan menggambarkan kebesaran pada zamannya.

Bangunan yang menunjukkan Hinduistis masih tampak di masjid dan makam. Meski halaman dan makam menyatu, masjid ini mempunyai halaman sendiri-sendiri.

Dari arah jalan, yang tampak lebih dulu adalah kompleks pecandian. Sedangkan gapura halaman berbentuk mirip Candi Bentar di Bali. Bentuk candi seperti ini telah dikenal sejak zaman Majapahit, seperti Gapura Jati Pasar dan Waringin Lawang. (kadam mustoko)


Kisah perjuangan para wali dalam menyiarkan agama Islam di Indonesia, memang berbeda beda cara. Di Lamongan jawa timur, Sunan Sendang Duwur, memiliki kelebihan mampu memboyong sebuah masjid dari jepara jawa tengah menuju Lamongan, untuk siar Islam. Hingga saat ini masjid tersebut masih kokoh bertahan, satu komplek dengan makamnya yang berasitektur perpaduan antara kebudayaan Islam dan Hindu.

Sunan Sendang Duwur bernama asli Raden Noer Rahmad merupakan putra Abdul Kohar Bin Malik Bin Sultan Abu Yazid yang berasal dari Baghdad Irak. Raden Noer Rahmad lahir pada tahun 1320 Masehi dan wafat pada tahun 1585 Masehi. Bukti wafatnya sang Sunan, dapat dilihat pada prasasti berupa pahatan yang terdapat di dinding makam beliau. Sunan Sendang Duwur adalah tokoh kharismatik yang pengaruhnya dapat disejajarkan dengan wali songo pada saat menyiarkan agama Islam di Indonesia.

Bangunan makam Sunan Sendang Duwur terletak di atas bukit Amitunon Desa Sendang Duwur, Kecamatan Paciran Lamongan, berarsitektur tinggi menggambarkan perpaduan antara kebudayaan Islam dan Hindu. Bangunan gapura bagian luar berbentuk mirip tugu Bentar di Bali dan gapura bagian dalam berbentuk paduraksa. Sedangkan dinding penyangga cungkup makam dihiasi ukiran kayu jati yang bernilai seni tinggi dan sangat indah. Bangunan seperti ini dikenal sejak zaman majapahit.

Hubungan antara Sunan Drajad dengan Sunan Sendang Duwur sangatlah erat dalam menyiarkan agama Islam. Bahkan, Sunan drajat merasa kagum kepada Sunan Sendang Duwur yang memiliki kemampuan ilmu agama yang tinggi. Hanya sedikit masyrakat yang tahu mengenai Sunan Sendang Duwur. Padahal, penyebaran Islam di pulau Jawa tak dapat dipisahkan dari sejarah Sunan Sendang Duwur.

Bukti peninggalan Sunan Sendang Duwur yaitu masjid kuno yang lokasinya berdekatan dengan makamnya. Konon, Sunan Sendang Duwur memboyong masjid tersebut dalam waktu semalam, dari mantingan Jepara Jawa Tengah menuju Lamongan atas petunjuk Sunan Drajat dan Sunan Kali Jogo. Masjid tersebut awal mulanya milik Mbok Rondo Mantingan, atau Ratu Kalinyamat yang diberikan kepada Sunan Sendang Duwur di saat masa mudanya. “Proses pemindahan masjid yang hanya membutuhkan waktu semalam itu, menjadi salah satu kelebihan kanjeng Sunan Sedang Duwur”, ujar Haji Ali, Juru Kunci Makam.

Tak hanya masjid, peninggalan kanjeng Sunan Sendang Duwur yang masih ada yaitu mimbar, bedug dan empat gentong berukuran besar yang di dapat dari kerajaan Majapahit.
Bangunan masjid ini telah direnovasi. Terdapat tiga pintu masuk untuk bagian depan. Di setiap pintu masuk bertuliskan angka tahun. Pintu sebelah kanan misalnya bertuliskan angka 1421 Saka, pintu tengah 1339 Hijriyah bertulisan arab, dan pintu sebelah kiri bertuliskan angka 1920 Masehi saat masjid ini direnovasi.

Dari masjid yang telah berusia 477 tahun inilah, Sunan Sendang Duwur pernah melakukan syiar agama Islam. Salah satu ajarannya yang terkenal adalah himbauan pada seseorang agar berjalan di jalan yang benar dan kalau sudah mendapat kenikmatan, jangan lupa sedekah.

Di kompleks yang sama, terdapat pula makam makam para santri Sunan Sendang Duwur, yang hingga kini di keramatkan masyarakat sekitar.
Read more >>

semuanya nyata

maafkan aku, sayang seperti itulah yang selalu kukatakan atas kesalahan demi kesalahan Tidak apa-apa, sayang Begitulah engkau berbisik lembut di telingaku Fajar demi fajar
Terima kasih, kekasihku Seperti itulah aku tersenyum padamu atas kebahagiaan demi kebahagiaan Engkau pantas mendapatkannya, cintaku Begitulah engkau mengecup dahiku Senja demi senja Dan serasa ingin kubaktikan sepenuh jiwa ragaku Mengucap nama-nama indahNya bersamamu Pagi demi pagi Serta ingin kuhabiskan seluruh hidupku Sujud bersamamu di hadapan-Nya Malam demi malam
Read more >>

Tidak Ada Kamu


Bila cinta telah menyatukan hati yang sedang gelisah , maka di sana pasti akan ada keindahan yang selalu dirasa , dan bila cinta telah datang maka diri inipun tak ubahnya seperti rusa yang tak berdaya karena tikaman tombak sang pemburu , lalu jiwapun tak kan pernah mampu untuk menghindar dari godaan dan bisikan cinta itu ,sekuat apapun diri berusaha untuk melepaskan diri dari jeratanya maka semua itu kan sia-sia ,karena kekuatan cinta lebih kuat dari segala kekuatan ,atau jika cinta itu tak pernah hadir maka diripun tak bisa memaksanya tuk hadir dalam hati , dan sekuat apapun diri mencoba untuk menghadirkan cinta yang tak pernah hadir maka semua itu akan sia-sia , karena kekuatan cinta lebih kuat dari segala kekuatan , dan cinta itu sendiri pun hadir dengan kebebasan bukan dengan paksaan .

Memang terkadang apa yang kita dapatkan tidak sesempurna dengan apa yang kita inginkan , tapi disadari ataupun tidak kita butuh dengan cinta yang telah ada tersebut , justru saat kita semakin mencari sesuatu yang sempurna maka itu akan membuat diri tersiksa karena jiwa yang haus akan ketenangan terus membohongi diri sendiri bahwa dalam hati yang terdalam telah tersimpan cinta yang amat dalam pula ,bahwa kita selalu berhadapan dengan hal yang semu ” Sebuah cinta sempurna yang terus kita buru namun hal itu hanya ada pada hayalan kita semata ” .

Pernahkah kita sadari bahwa cinta yang selama ini kita cari sesungguhnya selalu ada bersama setiap detak jantung kita , pernahkah pula kita berfikir jika kita terus berorientasi pada satu cinta yang terus terhayalkan…….. satu cinta yang sempurna , maka itu akan menjadikan kita tak mampu menerima cinta yang sedang hadir selain cinta yang kita harapkan itu …cinta yang tidak terlalu sempurna daripada apa yang kita hayalkan itu …….tapi disadari ataupun tidak, kita pasti membutuhkan cinta yang telah ada itu lebih dari sekadar kesempurnaan belaka , dan memang itulah kebenaran cinta yang sesungguhnya ” sebuah cinta yang hadir …..cinta yang kita butuhkan ” .

Namun pada kenyataanya cinta yang sedang hadir teersebut sering tersisihkan dari hati kita , bukan karena sebab apapun ,juga bukan karena cinta tersebut tak berharga …. namun karena kebodohan kita sendiri yang selalu ingin meraih dan terus mengejar sbuah cinta sempurna itu …..cinta yang hanya ada dalam cerita fiksi kita …. cinta yang telah membutakan mata kita … menulikan pendengaran kita … dan mebungkam mulut kita .

Sesungguhnya harapan yang telah kita tanam pada cinta sempurna yang kita impikan justeru akan menjadikan kita terus terbuai dengan rayuan dan kebohonganya, karena harapan yang terlalu besar tak lain adalah hayalan yang hanya ada dalam benak kita bukan kenyataan kita, anehya kita masih saja sering menaruh harapan yang terlalu besar pada cinta sempurna tersebut.

Percayalah sobat bahwa ” Tidak ada cinta yng sempurna di dunia ini” , oleh karenanya stop jangan mengharap lagi kalau kita akan mendapatkan cinta yang sempurna karena hakikat kesempurnaan hanya dimiliki sang pencipta.

Justru kesempurnaan cinta itu ada ketika kita mampu mencintai cinta yang ada

Dalam hati kita sebagaimana kita mencintai diri kita sendiri

Tak berlebihan jika ku katakan

Kesempurnaan cinta adalah ketika kita mempu mencintai

Dengan ketulusan dan keihlasan hati
Read more >>

Tak Sempurna

aku memilihmu…
karena ketaksempurnaanmu
juga ketaksempurnaanku
sebab aku ingin mencapainya bersamamu
meski aku dan kamu tak akan pernah mencapainya
atau bahkan sekedar mendekatinya

tapi, cintaku …
bukankah karena ketaksempurnaan, kita belajar?
tentang sabar dan syukur?
tentang kepedulian dan pengorbanan?
tentang diri kita?
tentang … apapun!
aku ingin belajar itu semua … bersamamu

dan bukankah sabar dan syukur merupakan kunci pintu surga?
denganmu … aku ingin membuka pintu itu
dengan-mu …
de-ngan-mu …
Read more >>